Membangun Anak Muda masa kini Menjadi Petani Modern

Dalam satu diskusi di balai desa, muncul satu pertanyaan menarik dari seorang pemuda usia 20-an awal, “Bagaimana mengajak anak muda desa agar tertarik belajar bertani?”

Pertanyaan pemuda itu menjadi penting karena sampai sekarang pertanian selalu menjadi penyedia lapangan pekerjaan terbesar bagi warga perdesaan, juga karena isu ini sudah beberapa tahun terakhir ramai dibicarakan di Indonesia.

Pertanyaan ini, bagi saya, setidaknya punya tiga jawaban. Sekilas, seluruh solusi ini tampak lumrah sehingga mungkin banyak orang berpikir soal ini dapat dengan mudah diatasi, tetapi kenyataan dari lapangan bicara sebaliknya.

Tunjukkan kepada anak muda prospek bertani sampingan.
Ketika sektor pertanian melemah di satu kawasan, wajar bila orang muda di sana memilih pergi atau mencari pekerjaan lain.

Seorang petani pria berusia tigapuluhan bercerita kepada saya, pada masa jaya kakao, tak satu pun kawan sebayanya yang berminat melanjutkan sekolah seusai mendapatkan ijazah sekolah dasar waktu itu di desanya hanya ada sekolah dasar sehingga untuk melanjutkan sekolah mereka harus tinggal di luar desa. Katanya, ia satu-satunya orang yang melanjutkan hingga sekolah menengah atas. Orang tuanya ingin ia kuliah, tapi waktu itu ia berpikir cukup sampai di situ.

Kita bicara tentang seorang muda yang tinggal desa dengan limpahan buah kakao yang seolah tak ada habisnya, dan harga kakao tengah melambung karena jatuhnya rupiah pada akhir dasawarsa 1990-an. Ini tentang kampung yang menarik pedagang keliling menjajakan baso, barang elektronik sampai sepeda motor, kampung yang kedatangan para pencari kerja upahan bahkan jauh dari pulau seberang.

Petani itu bicara tentang masa ketika posisi sosial petani cukup mentereng. “Waktu itu, kalau kita masuk warung, penjaga warung akan tergopoh mempersilahkan kami duduk.” Demikian seloroh petani yang seringkali terdengar tentang masa keemasan kakao di sentra-sentra kakao.

Ia bicara tentang masa ketika orang-orang melontarkan gurauan bahwa ikan-ikan kecil di pasar hanya untuk pegawai, sebab petani kakao hanya mau membeli ikan besar. Orang-orang Bugis yang bertani kakao menyimpulkannya dengan ringkas dan tepat: “Namo de’gaga sikola ko engka mo sikola’ [Walaupun tak ada sekolah yang penting punya pohon kakao]”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menggunakan Pipa PVC untuk berkebun Sayur Hidroponik

Bertani Sampingan Paling Cocok Dengan Modal Kecil Tapi Menjanjikan

Konsep Urban Farming menjadi bisnis alternatif pertanian