Strategi Mencari Bibit Buah yang Unggul

Para pehobi dan pekebun memburu lengkeng pingpong pada 2004. Musababnya, lengkeng pingpong mampu berbuah di dataran rendah. Keunggulan itu membuat geger dunia perbuahan di tanah air. Maklum, ketika itu masyarakat lebih mengenal lengkeng yang hanya berbuah di dataran tinggi. Popularitas lengkeng pingpong di tanah air tak lepas dari kiprah Eddy Soesanto
Pada 2003 pria kelahiran Jepara, Jawa Tengah, itu menemukan bibit pingpong di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Ketika itu di ujung pucuk bibit setinggi 50 cm muncul 3 buah seukuran bola pingpong berwarna cokelat kemerahan. Menurut ahli desain interior itu lengkeng itu istimewa. Alasannya Dimocarpus longan itu berbuah di Karawang yang merupakan dataran rendah dan bersuhu panas.

Laris manis
Tanaman anggota famili Sapindaceae itu juga genjah. Pingpong mulai belajar berbuah pada umur 3 tahun bila bibit asal sambung pucuk. Keunggulan lain buah berukuran jumbo, yakni seukuran bola pingpong sehingga nama itu menjadi nama varietas. Warna kulit buah juga atraktif, yakni berwarna cokelat kemerahan, lazimnya hanya berwarna cokelat. Sejak itu setiap pekan - sembari mengurus proyek taman - Eddy membawa bibit ke Jakarta.
Ia memperbanyak bibit pingpong di nurseri Arumdalu - kebun penangkaran buah kongsiannya dengan seorang teman. Alumnus Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, itu yakin suatu saat lengkeng pingpong bakal populer. Prediksi Eddy tepat. Lengkeng dengan ciri khas berdaun melengkung itu laris manis. Pamor pingpong makin menanjak saat Trubus mengulas keunggulan lengkeng asal Vietnam itu.
Seluruh stok di kebun Arumdalu pun ludes dibeli konsumen. Padahal, ia menjual bibit lengkeng itu dengan harga relatif mahal, yaitu Rp100.000 - Rp125.000 per bibit. Dalam dua tahun ia mampu menjual hingga 4.000 bibit atau omzet Rp400 juta. Sayangnya, pria 54 tahun itu mesti mengakhiri kerja sama dengan Arumdalu.
Beruntung ketika itu seorang teman meminjamkan lahan 2.000 m² di Cijantung, Jakarta Timur. Sampai akhirnya ia mengenal buah tin Ficus carica dari seorang kawan. Ternyata kisah tentang buah tin tercatat dalam dua kitab suci, yaitu Alquran dan Injil. Sejak itulah naluri bisnis Eddy bangkit.
Dalam perhitungannya, jika buah tin dikemas sebagai buah religi, bakal menjadi buruan kolektor. Sayangnya bibit yang ditunjukkan sang kawan tidak dijual. Ia lalu berburu ke kebun-kebun pembibitan di berbagai daerah. Kebun raya, wihara, dan pesantren pun tak luput menjadi tempat pencarian. Sampai akhirnya ia memperoleh 6 jenis ara - sebutan lain buah tin dalam kitab suci - hibrida, yaitu negrone, black ishia, conadria, flanders, long yellow, dan panachea tiger.
Bangkit
Eddy memperoleh beragam tin dari Puncak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Sekali lagi perhitungannya tepat. Dari ara Eddy mendapat untung berlipat. Dari penjualan 100 bibit negrone saja ia mendulang omzet Rp35 juta selama 3 tahun. Berkat tin, Eddy pun kembali bangkit. Kali ini ia menemukan strategi untuk melanggengkan bisnis bibit buah: pilih jenis berbeda dan unggul.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menggunakan Pipa PVC untuk berkebun Sayur Hidroponik

Bertani Sampingan Paling Cocok Dengan Modal Kecil Tapi Menjanjikan

Konsep Urban Farming menjadi bisnis alternatif pertanian